• Best Gaming Esports
Sega Invest di 3 Waralaba, Tinggalkan Judul Terbaru

Sega Invest di 3 Waralaba, Tinggalkan Judul Terbaru

Jadwalesports.com –  Industri game global selalu penuh kejutan, dan kali ini, sorotan tertuju pada raksasa asal Jepang: Sega. Dikenal sebagai rumah dari Sonic the Hedgehog dan banyak warisan klasik lainnya, Sega Invest baru saja membuat gebrakan besar yang mungkin akan mengubah arah perusahaannya ke depan.

 

Di tahun 2025 ini, Sega resmi mengumumkan fokus besar pada tiga waralaba utama yang dianggap sebagai kunci masa depan mereka. Lebih mengejutkan lagi, mereka juga siap untuk meninggalkan proyek judul-judul terbaru yang selama ini menjadi bagian dari eksperimen kreatif mereka. Keputusan ini bukan tanpa alasan—semuanya demi memastikan keberlanjutan bisnis di tengah persaingan ketat industri gaming.

Sega Invest
jadwalesports.com

Fokus ke Waralaba yang Terbukti Sukses

 

Langkah Sega Invest ini bisa dibilang sebagai strategi “back to the roots” dengan sentuhan modern. Dalam laporan terbarunya menyebut bahwa mereka akan mengalokasikan investasi besar-besaran untuk tiga waralaba utama yang sudah terbukti sukses secara komersial dan punya basis fans setia. Tiga waralaba tersebut adalah:

 

  • Sonic the Hedgehog
  • Persona
  • Yakuza (Like a Dragon)

 

Sonic the Hedgehog — Maskot Abadi yang Reborn

 

Sonic adalah waralaba yang sudah berusia lebih dari tiga dekade. Setelah sempat mengalami pasang surut, kehadiran film “Sonic the Hedgehog” (2020 dan 2022) berhasil mengangkat nama Sonic kembali ke puncak. Sega melihat ini sebagai peluang besar untuk menjadikan Sonic sebagai ikon lintas media—bukan cuma video game, tapi juga film, serial animasi, dan merchandise.

 

Di sektor game, Sonic Superstars (2023) menunjukkan kalau pemain lama dan baru masih tertarik dengan gameplay cepat khas Sonic. Sega berencana meluncurkan Sonic Universe baru dengan pendekatan dunia terbuka dan integrasi story-driven lebih kuat, mirip seperti Legend of Zelda: Breath of the Wild.

 

Persona — RPG Bergaya Jepang yang Meledak Global

Persona dulunya niche, tapi sejak Persona 5 rilis, game ini berhasil jadi global hit. Kombinasi elemen RPG, simulasi kehidupan sekolah, dan gaya visual artistik khas membuat franchise ini mencetak rekor penjualan.

 

Sega mengungkapkan bahwa Persona kini akan jadi franchise RPG utama mereka, bahkan menggantikan Phantasy Star yang semakin meredup. Dalam pipeline, sudah ada rencana spin-off, anime baru, dan kemungkinan remake Persona 3 yang lebih modern.

 

Like a Dragon (Yakuza) — Dari Underground ke Mainstream

 

Waralaba Yakuza, yang kini lebih dikenal sebagai Like a Dragon, mengalami transformasi luar biasa. Dari yang awalnya dianggap terlalu “niche Jepang”, kini game ini justru digandrungi pemain di Amerika dan Eropa.

 

Like a Dragon: Infinite Wealth (2024) berhasil mencetak rekor penjualan tertinggi dalam sejarah waralaba. Dengan cerita yang dewasa, karakter yang kuat, dan gameplay RPG turn-based yang unik, Sega Invest dan melihat masa depan cerah di sini. Waralaba ini kini dianggap sebagai pengganti spiritual Shenmue, dengan universe yang terus berkembang.

 

Tinggalkan Judul Terbaru? Keputusan Berani tapi Logis

 

Yang cukup bikin gempar, Sega juga menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi memprioritaskan judul-judul eksperimen atau IP baru. Beberapa proyek yang tadinya dijanjikan sebagai game AAA, seperti “Hyenas” atau “Virtua Strikers Reborn”, dibatalkan atau ditunda tanpa batas waktu.

 

Menurut pernyataan resmi mereka:

 

“Kami telah mempelajari tren industri dan perilaku pemain. Fokus kami adalah memperkuat fondasi kami di IP yang sudah memiliki komunitas besar dan stabil.”

 

Secara bisnis, ini langkah yang sangat data-driven. Di era di mana biaya pengembangan game AAA bisa menembus $100 juta lebih, mencoba “sesuatu yang baru” bisa jadi perjudian besar. Sega tidak ingin lagi mengambil risiko besar dengan IP yang belum teruji.

 

Apa Makna Strategi Ini untuk Industri?

 

Langkah Sega ini bisa dipahami sebagai respons terhadap realitas pasar saat ini:

 

  • Konsolidasi dan efisiensi jadi keyword. Publisher besar makin selektif.
  • Komunitas dan loyalitas adalah aset terpenting. Game dengan fandom kuat lebih sustainable.
  • Adaptasi lintas media membuka revenue baru. IP sukses kini harus bisa jadi film, komik, merchandise, hingga mobile game.

 

Sega tampaknya menyadari bahwa kekuatan sejati mereka bukan di inovasi yang radikal, tapi pada kemampuan memperluas IP legendaris ke ekosistem hiburan global.

 

Fans: Campur Aduk Antara Antusias dan Kecewa

 

Reaksi komunitas gamer cukup beragam. Di satu sisi, banyak yang senang karena franchise favorit mereka akan terus hidup dan dikembangkan serius. Tapi tak sedikit juga yang kecewa, terutama mereka yang berharap Sega tetap jadi perusahaan “eksperimental” seperti di era Dreamcast.

 

Komentar di forum Reddit dan Twitter, misalnya:

 

  • “Senang Sonic diprioritaskan, tapi saya juga ingin Sega Invest tetap berani mencoba hal baru.”
  • “Persona dan Like a Dragon memang keren, tapi bagaimana dengan IP seperti Jet Set Radio?”

 

Sega Invest dan menjaga keseimbangan antara bisnis dan kreativitas. Mereka tak bisa hanya mengandalkan nostalgia; mereka tetap butuh menyuntikkan inovasi dalam bentuk yang lebih aman dan terkontrol.

 

Analis Pasar: Ini Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Langkah Konsolidasi

 

Dari kacamata industri, apa yang dilakukan Sega ini bisa jadi langkah “preemptive strike” menghadapi persaingan raksasa seperti Sony, Microsoft, dan Tencent. Fokus pada IP yang sudah mapan adalah strategi defensif dan ofensif sekaligus.

 

Analis dari Nikkei dan Bloomberg menyebut bahwa Sega juga tengah melirik peluang merger kecil-kecilan, terutama studio indie Jepang yang bisa memperkuat produksi konten untuk IP besar mereka.

 

Kalau langkah ini berhasil, bisa saja Sega akan muncul sebagai “Mid-Tier Publisher Baru” yang mampu bertarung di level atas tanpa terlalu tergantung pada hardware (seperti dulu di era konsol).

Baca Juga :

Akhir Kata: Masa Depan Sega, Lebih Fokus, Lebih Tajam

 

Sega mungkin bukan lagi perusahaan “nakal” yang suka mencoba hal gila. Tapi di 2025 ini, mereka menunjukkan kalau mereka tahu siapa mereka, tahu siapa audiens mereka, dan tahu apa yang harus diprioritaskan.

 

Dengan meninggalkan IP baru dan fokus pada tiga waralaba utama, Sega bukan sedang mundur—mereka sedang mengatur ulang strategi untuk menang lebih besar. Dan kalau kita lihat tren pasar sekarang, itu adalah langkah yang sangat masuk akal.

 

Buat gamer dan fans setia Sega, satu hal yang pasti: Sonic, Persona, dan Like a Dragon bukan hanya akan tetap hidup—mereka akan makin besar dan berpengaruh.